Kamis, 13 November 2008

KEBERPIHAKAN POLITIK MEDIA MASSA (Analisis Wacana Pemberitaan Debat Terbuka Barack Obama dengan Hillary Rodham-Clinton)


Abstrak
Persaingan bebas memaksa media massa memunculkan ‘kreativitasnya’ untuk tetap bertahan hidup. Akibatnya, media massa terikut arus komersialisasi, kapitalis secara membabi buta. Selain itu, sebagai penyampai pesan yang efektif, media massa sering ditunggai oleh berbagai kepentingan, terutama politik. Sehingga apapun dinilai dengan ‘kepentingan’ atau pemasukan uang. Mudah ditebak, media massa akhirnya kehilangan prinsip keadilannya, tidak berpihak, dan independennya.
Kata kunci: Analisis Wacana, Keberpihakan Politik, Media Massa.

A. PENDAHULUAN
Media massa sebagai perangkat sosialisasi yang paling berpengaruh, memiliki peran efektif berkenaan dengan masalah ekonomi, sosial, dan politik. Namun seringkali yang terjadi dengan posisi dan peran media massa tersebut disalah gunakan oleh berbagai kepentingan yang melatarbelakangi.
Karena peran efektif media massa tersebut pada akhirnya media massa menjadi begitu penting bagi pemerintah atau politisi. Media massa menjadi tidak independen dan sarat dengan tunggangan kepentingan politis dari para elit. Blumler menyatakan dalam Haryatmoko (2007:81), perebutan akses ke media merupakan perjuangan penuh persaingan untuk mempengaruhi dan mengontrol persepsi rakyat terhadap peristiwa politik kunci dan masalah yang terjadi dalam negara demokrasi di antara politisi atau juru bicara dari berbagai kepentingan yang menginginkan untuk mempertajam public policy.
Jean Baudrillard, pakar media asal Perancis, meyakini bahwa media merupakan perangkat untuk mengacaukan hakikat dan kenyataan beragam persoalan. Lebih lanjut ia memaparkan, "Apa yang kita anggap sebagai realitas, sejatinya adalah pandangan media terhadap isu tersebut. Bisa dikatakan, realitas bisa terwujud dalam berbagai bentuk sesuai dengan banyaknya media dan gambar. Dengan kata lain, simbol realitas telah menggantikan realitas itu sendiri.
Terkait dengan hal di atas, Kompas pada tanggal 28 Februari 2008 memberitakan debat terbuka antara Barack Obama dan Hillary Clinton, dengan judul "Hillary Gagal Taklukkan Obama". Sedangkan sub judulnya adalah, "Media Massa AS Makin Memojokkan Nyonya Bill Clinton itu". Penulis merasa tertarik untuk menganalisis pemberitaan tersebut dan membaca teks-teks yang ada untuk menggali kepentingan-kepentingan yang tersebunyi di balik berita tersebut.
Dalam Williamson (2007) disebutkan bahwa, ide-ide tertentu yang disediakan ketika iklan-iklan memproduksi imaji-imaji (dalam konteks penelitian ini iklan-iklan adalah berita, pen.), akan melibatkan kesalahpengenalan yang terdeterminasi secara kultural atas relasi real di antara keduanya. Dengan kata lain, penafsiran dari sebuah berita sangat ditentukan oleh budaya, kebiasaan dari penafsir –pembaca.
Barthes (dalam Mulyana, 2006) mengemukakan bahwa sejak sebuah teks lahir, maka semenjak itu pula penulis/wartawan/media telah "mati" –dalam arti kata sudah tidak berhak lagi memberi pengaruh tafsiran dan pemaknaan sebuah teks kepada pembaca. Lebih lanjut Mulyana menjelaskan, menurut Roland Barthes makna dari suatu simbol adalah liar. Makna apa pun yang dilekatkan oleh sumbernya terhadap simbol tidak lagi mengikat pihak mana pun di luar sumber. Ibaratnya si pengarang telah mati (The Death of Author), artinya tidak lagi mampu mengontrol makna yang ia maksudkan semula. Semua orang dapat menafsirkan sesuka hati sebuah teks, iklan, atau objek, sesuai dengan konteks ruang, waktu, dan sosio-budaya (pengalaman, pendidikan, agama, dsb.) yang dimilikinya masing-masing.
Dalam membaca teks-teks dalam berita Kompas ini penulis akan menafsirkannya sesuai dengan kaidah-kaidah konvensional yang ada dan merujuk pada salah satu model dalam analisis wacana.



B. METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan prosedur yang dipergunakan dalam upaya untuk mendapatkan data ataupun informasi guna memperoleh jawaban atas pertanyaan penelitian. Penentuan penahapan dan teknik yang digunakan haruslah dapat mencerminkan relevansi dengan fenomena penelitian yang telah diuraikan dalam konteks penelitian.
Dasar dari analisis wacana adalah interpretasi, karena analisis wacana merupakan bagian dari metode interpretatif yang mengandalkan interpretasi dan penafsiran pembaca, jadi semua akan tergantung dari penafsiran (interpretasi) si peneliti. Setiap teks dalam analisis wacana pada dasarnya bisa dimaknai secara berbeda, dapat ditafsirkan secara beraneka ragam. Analisis wacana berpretensi memfokuskan pada pesan yang tersembunyi (laten), karena banyak sekali teks komunikasi yang disampaikan secara implisit. Makna suatu pesan dengan demikian tidak dapat hanya ditafsirkan sebagai apa yang tampak nyata dalam sebuah teks, melainkan harus dianalisis dari makna yang tersembunyi. Pretensi analisis wacana adalah pada muatan, nuansa, dan makna yang laten dalam suatu teks, maka di dalam analisis wacana unsur yang terpenting adalah penafsiran (interpretasi). Tanda dan elemen yang terdapat dalam suatu teks dapat ditafsirkan secara mendalam oleh peneliti. Disamping itu, analisis wacana menyelidiki ”bagaimana ia dikatakan” (how), dan tidak berpotensi melakukan generalisasi (Eriyanto dalam Basarah, 2007).
Pendekatan yang dianggap sesuai dengan penelitian ini adalah menggunakan paradigma kritis dan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana Van Dijk. Dimensi teks, menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, 2006), terdiri dari 3 (tiga) struktur, yaitu:
1. Struktur Makro, merupakan makna global dari suatu teks yang dapat diamati dari topik/tema yang diangkat oleh suatu teks, bersifat tematik (tema/topik yang dikedepankan dalam suatu teks) dan sintaksis (bagaimana kalimat [bentuk, susunan] yang dipilih).
2. Superstruktur, merupakan kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan, bersifat skematik (bagaimana bagian dan urutan teks diskemakan dalam suatu teks secara utuh), dan stilistik (bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam suatu teks).
3. Struktur Mikro, merupakan makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat, daan gaya yang dipakai oleh suatu teks, bersifat semantik (makna yang ingin ditekankan dalam suatu teks), dan retoris (bagaimana dan dengan cara apa penekanan dilakukan).
Adapun analisis penelitian ini akan difokuskan pada struktur mikro. Yaitu mengamati makna yang ingin ditekankan dalam teks berita.
Berita dalam media massa cetak seperti koran, memiliki sejumlah makna pesan yang disampaikan melalui sejumlah tanda dalam teks dan gambar. Dengan demikian, bagaimana data diinterpretasi dan bagaimana pesan dalam sebuah berita dikupas sangat bergantung pada landasan teori yang dipergunakan dalam suatu penelitian.
Melalui analisis wacana, kita tidak saja hanya mengetahui bagaimana isi pesan yang hendak disampaikan melainkan juga bagaimana pesan dibuat, simbol-simbol apa yang digunakan untuk mewakili pesan-pesan melalui berita yang disusun pada saat disampaikan kepada khalayak.
Tanda yang digunakan dalam berita kemudian akan diinterpretasikan sesuai dengan konteks berita sehingga makna berita tersebut akan dapat dipahami baik. Namun hasil yang akan diperoleh akan bersifat relatif dan tidak digeneralisasikan.
Nilai-nilai ideologis (dalam istilah Roland Barthes disebut myth, atau mitologi) dan kultural dapat dikupas dengan menganalisis teks dan gambar yang teraplikasi pada sebuah film. Hasil analisis rangkaian teks dan gambar itu akan dapat menggambarkan konsep pemikiran yang hendak disampaikan oleh pembuat berita (wartawan dan media). Rangkaian teks dan gambar yang terinterpretasikan akan menjadi suatu jawaban atas pertanyaan nilai-nilai ideologi dan kultural yang berada di balik pesan sebuah berita.
Senada dengan itu, Syahputra (2008) menyatakan bahwa analisis wacana media bersandar pada pertanyaan "bagaimana" dan "mengapa" –bukan "apa". Melalui metode analisis wacana, penelitian dapat membongkar motif ideologis di balik teks yang disajikan (diproduksi) media massa pada publik.

C. PEMBAHASAN
1. Analisis Teks Judul
Judul utama dalam berita ini adalah "Hillary Gagal Taklukkan Obama". Sedang sub judulnya adalah, "Media Massa AS Makin Memojokkan Nyonya Bill Clinton Itu". Judul utama menampakkan sejelasnya bahwa Hillary telah gagal –dengan kata lain masih kalah. Sedangkan dari subjudulnya menunjukkan bahwa Kompas hanyalah meneruskan atau memberitakan ulang ulasan media massa yang memojokkan Hillary Clinton.
Kompas berusaha menancapkan ke benak pikiran pembacanya bahwa pemberitaannya tetaplah independent tanpa tendensi apapun –karena hanya memberitakan ulang. Meskipun jelas-jelas pemberitaan tersebut berpihak kepada Obama.
Dalam kasus kartun Nabi Muhammad SAW pada media cetak Denmark, Jyland Posten, masyarakat dan media internasional yang moderat dihimbau untuk tidak menyiarkan atau mencetak ulang kartun-kartun pelecehan tersebut. Umat Muslim merasa sangat tersinggung ketika media massa yang memuja kebebasan, tetap menayangkan dan mencetak ulangnya. Media massa yang tidak mengindahkan himbauan tersebut dikutuk dan dianggap juga sebagai pendukung Jyland Posten.
Kembali ke kasus pemberitaan Kompas, ketika Kompas memberitakan sebuah berita yang berisi pemihakan terhadap kandidat calon presiden Obama, maka masyarakat atau pembaca bisa menganggapnya sebagai bentuk dukungan Kompas terhadap Obama secara tidak langsung.
2. Analisis Teks Isi
Dalam pemberitaan ini, media massa di AS begitu memojokkan Hillary sehingga menunjukkan sosok Hillary sebagai sosok yang berperilaku brutal dan tidak bijaksana. Pendegradasian citra Hillary ini adalah obsesi media –selain mempengaruhi masyarakat. Baudrillard (1981) dalam Haryatmoko (2007) menjelaskan bahwa pencitraan mendiskualifikasi kategori kebenaran sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara relalitas, representasi, simulasi, kepalsuan, dan hiperrealitas. Definisi hiperrealitas sendiri adalah produksi sebuah model yang berasal dari kenyataan. “Pemetaan yang mendahului kenyataan.” (Protevi, -).
Baudrillard lalu menjelaskan empat fase citra; pertama, representasi di mana citra merupakan cermin suatu realitas; kedua, ideologi di mana citra menyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas; ketiga, citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas, lalu citra bermain menjadi penampakannya; keempat, citra tidak ada hubungan sama sekali dengan realitas apapun: ia hanya menjadi yang menyerupai dirinya.
Pencitraan negatif terhadap Hillary terdapat dalam pemberitaan tersebut, berikut ini:
a. Agresif dan Emosional:
· Harian USA Today, menuliskan,"Hillary tadi malam, (Selasa malam waktu Ohio) meninju, mencakar, dan menerkam Barack Obama…"
b. Percaya Diri yang Berlebihan
· …seraya mengulangi lagi pernyataan bahwa ia adalah seorang pejuang, yang siap sejak hari pertama jika terpilih menjadi presiden.
c. Tidak Konsisten
· …Hillary mengatakan ia tak sepenuhnya mendukung invasi Irak.
· Obama membalas bahwa sebagai senator New York, Hillary telah mendukung invasi Irak tahun 2002.
· Hillary mengatakan tahun 2002 benar-benar keadaan demikian sulit dan Obama beruntung belum menjadi senat waktu itu.
· Obama mengatakan, Hillary mendukung NAFTA yang nyatanya merugikan warga Ohio.
· Hillary mengatakan, sebagai ibu Negara, tentu dia akan diam soal NAFTA saat itu. "Namun saya mengatakan, NAFTA perlu dirundingkan kembali," Kata Hillary.
d. Berwawasan sempit
· …calon Presiden Rusia berikutnya yang paling kuat. "Medvedev, whatever…" kata Hillary, yang seharusnya menyebutkan Dmitry Medvedev…
e. Berpikiran negatif
· …Hillary sudah berbuat negatif terlalu jauh kepadanya.
Bertolak belakang dengan sosok Obama yang ditampilkan sangat positif dan bijaksana. Seperti berikut ini:
a. Konsisten
· …"Dari awal saya konsisten dengan mengatakan bahwa NAFTA itu harus diubah,"…
b. Peduli
· Obama mengatakan, dari awal sikapnya adalah menurunkan biaya pengobatan, bukan memaksa warga yang tak mampu membeli asuransi kesehatan.
c. Anti rasialis
· …ia pun punya sahabat dekat dari semua pihak, termasuk Yahudi. "Niat saya adalah mempersatukan semua komunitas," kata Obama.
d. Besar hati
· …saya sadar Hillary adalah seorang calon presiden yang baik,…
e. Percaya Diri
· …, tetapi saya jauh lebih siap, kata Obama.

Eksploitasi terhadap sikap Hillary ini adalah yang disebut oleh Jean-Francois Lyotard sebagai meta-narasi dan oleh Jean Baudrillard disebut Hiperrealitas (Pardede, 2004). Pada intinya media melebih-lebihkan sesuatu atau bermetafora dengan kenyataan yang ada. Van Dijk menjelaskan tentang metafora ini (Eriyanto, 2006), sebagai berikut:

Dalam suatu wacana, seorang wartawan tidak hanya menyampaikan pesan pokok lewat teks, tetapi juga kiasan, ungkapan, metafora yang dimaksudkan sebagai ornament atau bumbu dari suatu berita. Akan tetapi, pemakaian metafora tertentu bisa jadi menjadi petunjuk utama untuk mengerti makna suatu teks. Metafora tertentu dipakai oleh wartawan secara strategis sebagai landasan berfikir, alas an pembenar atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik. Wartawan menggunakan kepercayaan masyarakat, ungkapan sehari-hari, peribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata kuno, bahkan mungkin ungkapan yang diambil dari ayat-ayat suci –semuanya dipakai untuk memperkuat pesan utama.

Metafora dalam narasi dan penggambaran realitas yang ada, oleh Van Dijk dianggap sebagai usaha dari media/wartawan untuk memperkuat pesan utama yang ingin disampaikan. Sedangkan menurut Baudrillard, perekayasaan (dalam pengertian distorsi) realitas lewat tanda-tanda yang melampaui (hyper-sign), sedemikian rupa, sehingga tanda-tanda tersebut kehilangan kontak dengan realitas yang dipresentasikannya. Hiperrealitas menciptakan satu kondisi, yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian; fakta bercampur dengan rekayasa (Piliang, 2003).
Meta-narasi dan Hiperrealitas ini terkandung dalam teks yang sudah disebutkan di atas: Harian USA Today, menuliskan,"Hillary tadi malam, (Selasa malam waktu Ohio) meninju, mencakar, dan menerkam Barack Obama…". Apakah kenyataannya seperti itu? Apakah Obama menjadi babak belur setelah penganiayaan yang dilakukan oleh Hillary? Hillary dalam teks ini digambarkan sebagai monster zombie yang haus darah. Hillary dalam teks tersebut telah menjadi seekor singa betina yang kelaparan. Penggambaran itulah yang dianggap berlebih-lebihan dan jauh dari realitas yang ada. Belum lagi pemaparan pembandingan yang kontras pada sikap Obama. Tidak ada celah negatif pada paparan Obama. Sosok ini digambarkan sebagai sosok yang civility (beradab). Yang menghadapi serangan negatif dengan balasan yang positif. Media massa Amerika Serikat sangat jelas sekali sedang menggalang persatuan mendukung Obama –demikian juga kiranya dengan Kompas.
3. Analisis Gambar
Peletak dasar semiologi, Ferdinand de Saussure merupakan pakar linguistik (bahasa) dari Swiss. Sampai akhir hayatnya, Saussure hanya melakukan penelitian semiologi pada tataran bahasa saja. Selanjutnya pemikirannya dikembangkan oleh beberapa muridnya dan dikumpulkan menjadi sebuah buku. Buku Saussure tentang semiologi, sejatinya adalah kumpulan diktat kuliahnya. Selanjutnya pemikirannya semakin berkembang di tangan Claude Levi-Strauss dan Roland Barthes –dengan strukturalismenya. Kemudian semiologi tidak lagi hanya dipakai dalam tataran bahasa saja tetapi mencakup semua yang dianggap mengandung tanda.
Para strukturalis berusaha menguraikan semua unsur sistem tanda (termasuk gambar, pen.) sebagai 'bahasa'. Struktural bekerja dengan pencarian-pencarian yang sistematis untuk mendapatkan struktur yang mendalam dari fenomena yang ada –seperti bahasa, masyarakat, pemikiran dan perilaku (Candler, 1994).
Mengenai analisis gambar, Van Dijk menjelaskan bahwa elemen grafis yang muncul dalam foto, gambar, tabel, pemakaian huruf italic atau bold, adalah untuk dipakai guna mendukung gagasan atau untuk tidak menonjolkan bagian lainnya. Dalam hal ini foto debat antara Obama dan Hillary dipakai untuk semakin memperkuat judul serta isi yang terkandung dalam berita ini (Eriyanto, 2006).
Dalam foto yang ditampilkan ditunjukkan tiga sosok, Hillary, interviewer, dan Obama. Ekspresi Hillary yang melotot, bibir mengerucut, dahi berkerut, menampakkan sosok pribadi yang kaku, tegang, kolot, emosional, dan tak sabaran. Ditambah lagi sikap badan yang agak mengangkat dagu, adalah sikap yang dimiliki orang-orang sok kuasa –sombong.
Lain dengan sosok Obama yang ditampilkan lebih arif bijak. Ekspresi Obama yang menautkan jari-jarinya menandakan keseimbangan pribadi, keteguhan, kokoh, pribadi yang mantap. Pandangan yang datar kepada Hillary, menunjukkan pengendalian diri yang mumpuni. Sikap badan yang tegap namun sewajarnya, menunjukkan citra diri yang confident.
4. Ideologi dan Kepentingan Media
Ideologi merupakan salah satu dari lima faktor yang mempengaruhi penyajian berita. Baik bagaimana media massa berperan serta dalam mempropagandakan ideologi atau mempropagandakan kekuatan yang menentukan seifat ideologi tersebut (Resse dalam Pratiwi, 2008). Ideologi adalah salah satu konsep sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis. Hal ini karena teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu. Ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan untuk mereproduksi dan melegitimasi dominasi mereka (Eriyanto, 2006).
Tentang ideologi, Sara Mills mengemukakan bahwa ideologi akan mempengaruhi pemosisian subjek dan objek dalam sebuah berita. Karena pemosisian satu kelompok pada dasarnya membuat satu kelompok memiliki posisi lebih tinggi dibanding kelompok lain dan kelompok lain itulah yang menjadi objek atau sarana marjinalisasi (Eriyanto, 2006).
Lebih lanjut Eriyanto (2006) menjelaskan bahwa latar peristiwa dipakai untuk menyediakan dasar hendak ke mana makna teks dibawa. Ini adalah cerminan ideologis, di mana wartawan/media dapat menyajikan latar belakang dapat juga tidak. Tergantung pada kepentingan mereka.
Ketika sebuah media pro dengan Obama, maka media tersebuat akan menyajikan struktur berita yang lebih berat sebelah mendukung Obama. Dan sebaliknya media tersebut akan menyerang, atau mencari kelemahan dari lawan-lawan politik Obama.
Media saat ini sebagian besar adalah media yang menggunakan kapitalisme sebagai ideologi. Ketika sebuah media mengaku bukan sebagai perpanjangan sebuah ideologi apapun, maka sebenarnya media tersebut juga telah memilih ideologinya. Seperti halnya ketika orang-orang komunis menyatakan ke-ateisan-nya, maka mereka sebenarnya telah memilih tuhan baru yaitu komunisme.
Dalam kasus pemberitaan debat Obama – Hillary ini media tengah menjalankan model komunikasi politik. Masalah politik yang didefinisikan, didiskusikan oleh pemerintah, politisi, wartawan, pakar atau pemimpin kelompok kepentingan disebut sebagai model komunikasi politik dari atas ke bawah. Hanya saja masyarakat saat ini semakin kritis terhadap model semacam ini. Masyarakat sebagai pembaca teks media dapat memilah-milih sesuai dengan kerangka pikir yang mereka punyai. Namun, hal ini tidak berarti model komunikasi politik berupa jurnalisme populis seperti pemberitaan debat Obama – Hillary ini tidak efektif sama sekali. Media membuat audience menjadi bergantung dan kompulsif. Padahal media memiliki kesempatan untuk mempengaruhi masyarakat dengan menanamkan kebebasan dan inisiatif. Dalam pragmatisme ekonomi (kapitalisme), logika komersial membuat refleksi diabaikan demi emosi, teori ditinggal demi kegunaan praktis.
Membela salah satu pihak dalam perpolitikan adalah hal yang wajar. Memberi dukungan kepada satu pihak bertujuan untuk mendapatkan kemudahan dan fasilitas yang akan didapati saat pihak yang didukung meraih kemenangan. Tidak heran, ada beberapa orang di Amerika Serikat yang menyumbangkan dana kampanye bagi lebih dari satu kandidat presiden. Karena mereka ingin memastikan siapapun yang menjadi presiden, mereka akan tetap mendapatkan fasilitas.

5. Kepentingan Kompas
Lalu, apa kepentingan Kompas yang notabene adalah media di luar Amerika Serikat? Sekali lagi, inilah bentuk dari kekuatan kapitalisme global. Kompas juga memiliki peluang untuk mendapatkan "sesuatu" jika Obama menjadi presiden. Melihat ke belakang, Obama yang pernah beberapa tahun berinteraksi dengan orang-orang dan suasana Indonesia, merupakan sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan bagi perkembangan Kompas –bahkan mungkin juga bagi Indonesia. Apalagi Obama juga memiliki saudara tiri (Maya Soetoro) yang berdarah Indonesia dan lancar berbahasa Indonesia, hasil perkawinan ibunya (Ann Dunham) dengan lelaki Indonesia (Lolo Soetoro).
Celah peluang ini tidak didapati pada sosok Hillary. Hillary tidak memiliki hubungan historis dengan Indonesia, yang pada akhirnya akan sulit mengharapkan "sesuatu" darinya.
6. Target Politik
Ketika sebuah pemerintahan negara berusaha membentuk persepsi rakyatnya dengan media yang dimiliki negara, maka dia juga akan berhadapan dengan media non negara yang digunakan oleh oposisi dalam mempengaruhi dan memanipulasi masyarakat.
Pemberitaan ini dapat juga dikategorikan sebagai pembentukan opini publik yang direncanakan. Menurut Nurudin (2002) opini publik yang direncanakan itu organisasi, media, dan target yang ditujunya sudah jelas. Opini publik ini muncul karena untuk mempengaruhi masyarakat atau sengaja untuk meng-kounter opini publik lain yang sudah diyakini oleh masyarakat. Kekuatan opini publik antara lain dapat mengancam karir politik seseorang dan mempertahankan atau menghancurkan sebuah organisasi atau institusi.
Tujuan utama dalam opini publik ini adalah merengkuh target politik. Dengan mencitrakan Hillary sebagai sosok yang negative, maka akan menghasilkan opini publik yang mengunggulkan sosok Obama. Hubungan opini publik dengan propaganda sangat erat dan sulit dipisahkan satu dengan yang lain. Laswell (1927) dalam Nurudin (2002) mengatakan bahwa propaganda semata-mata adalah kontrol opini. Ini artinya sebuah propaganda dilakukan untuk mempengaruhi atau mengontrol opini pihak yang menjadi sasaran propaganda. Jadi dalam kasus pemberitaan debat Obama – Hillary ini sangat bisa dikategorikan sebagai bentuk propaganda juga.
Target dari pemberitaan ini adalah massa pendukung. Secara sederhana dalam pemberitaan tersebut dapat dipersepsikan sebagai bentuk pengaruh terhadap massa sehingga memiliki pandangan yang buruk terhadap Hillary lalu mereka akan memilih Obama. Tetapi apakah sesederhana itu?
Persepsi yang lebih dalam lagi dalam pemberitaan ini adalah permainan kubu Republik yang relatif lebih 'adem ayem' dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi massa. Apalagi selama ini pemilih di Amerika Serikat jarang sekali yang fanatik terhadap sebuah partai. Mereka akan dengan mudah berubah setiap saat dalam memilih kandidat senator maupun presiden. John McCain –kandidat presiden terpilih dari Partai Republik, yang berada di atas angin tampak lebih tenang melewati pemilihan interen yang lalu.
Dengan pemberitaan tentang perseteruan intra bakal kandidat presiden Partai Demokrat tersebut, akan mencitrakan keburukan dari keduanya sendiri. Partai Demokrat terkesan tidak solid, ingin menang sendiri, dan membela kepentingan pribadi. Jika pencitraan ini berhasil maka yang akan mendapat limpahan suara kemungkinan besar adalah pihak Parti Republik –atau minimal pihak Independen.
Di luar kedua analisis di atas, ada sebuah analisis lagi. Yaitu, media massa Amerika Serikat saat ini realitasnya sedang mengunggulkan Obama. Namun, sangat mungkin mereka memiliki agenda tersembunyi menghancurkan Obama itu sendiri. Ketika nanti Obama terpilih menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat, di saat itulah Obama (yang berkulit hitam –campuran) akan di keroyok oleh dominasi kulit putih. Hal ini ditegaskan dengan mulai beredarnya kampanye hitam di berbagai media, khususnya internet. Sampai saat ini Amerika Serikat –negara paling demokratis di dunia– masih menyimpan permasalahan diskriminasi ras, tinggalan perang saudara di masa lalu.

D. PENUTUP
Segala bentuk komunikasi bertujuan untuk dapat mempengaruhi. Meskipun untuk meraih tujuan tersebut harus melalui rekayasa –seperti membangun citra realitas sehingga semuanya bisa tampak nyata. Rekayasa seringkali menyusup dalam celah-celah antara nilai, gagasan, dan opini yang bertujuan untuk mengaburkan pembedaan antara ketiganya. Nilai, gagasan, dan opini sering tidak bisa dibedakan dan dibuat sedemikian rupa sehingga diterima oleh massa sebagai fakta.
Dalam upaya untuk dapat memberitakan secara adil sebuah berita, serta untuk tidak semata-mata mengejar nilai kapital, media seharusnya mematuhi atau menjalankan etika komunikasi yang ada. Sehingga media dapat menjadi sumber informasi masyarakat yang benar-benar tepercaya. Media juga dapat berperan sebagai stimulus bagi masyarakat untuk dapat bersikap kritis. Bukan malah membuai masyarakat, merecoki, atau sekedar menjadi alat propaganda bagi kepentingan politik.

E. DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Barthes, Roland. 2007. Mitologi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Eryanto. 2006. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: PT. LkiS.
Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi. Yogyakarta: Kanisius.
Nurudin. 2002. Komunikasi Propaganda. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Piliang, Yasraf A. 2003. Hipersemiotika. Yogyakarta: Jalasutra.
Williamson, Judith. 2007. Decoding Advertisements: Ideology and Meaning in Advertising (terj. Saleh Rahmana). Yogyakarta: Jalasutra.
Jurnal dan Buletin:
Basarah, Finy F. 2007. 'Poligami Dalam Media Film Indonesia'. Jurnal Belcom Vol. 2, No. 2, April, hh. 1 – 34.
Pardede, Jimmy. 2004. 'Home & Alone'. Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia PILAR, edisi 44, Maret, hh. 4 – 7.
Syahputra, Iswandi. 2008. ‘Produksi Wacana Media (Analisis Wacana Poligami Aa Gym dan Adegan Mesum Yahya Zaini pada Koran Kompas dan Republika)’. Jurnal Profetik Vol. 1, No. 1, April, hh. 30 - 47.
Pratiwi, Fatma Dian. 2008. ‘Konstruksi Media atas Realitas: Analisis Framing Pemberitaan Kasus Sengketa Tanah Warga Baluwarti Kraton Surakarta Pada Surat Kabar Harian Solo Pos dan Suara Merdeka. Jurnal Profetik Vol. 1, No. 1, April, hh. 78 - 93.
Internet:
Barthes, Roland. 1967. “The Death of the Author”. http://www.ubu.com/aspen/aspen5and6/threeEssays.html#barthes. Diunduh 29 Juni 2007.
Chandler, Daniel. 1994. ‘Semiotics for Beginners’. Daniel Chandler’s Home Page E-mail: dgc@aber.ac.uk., atau http://www.mcs.com, Diunduh 24 Oktober 2007.
Mulyana, Deddy. 2006. ‘Antara Simbol dan Harapan’. http://www.pikiranrakyat.com/. Diunduh 24 Oktober 2007.
Protevi, John, -, Jean Baudrillard, Simulations (NY: Semiotext(e), 1983)" Email: mailto:useprotevi@lsu.edu http://www.protevi.com/john/Postmodernity/PDF/Jean_
Baudrillard.pdf. Diunduh 29 Juni 2007.
Surat Kabar:
Kompas, Edisi Kamis 28 Februari 2008.

Jumat, 03 Oktober 2008

purwodadi - jogja

jam 5 sore aku naiki bis menuju kota jogja. cuma ingin ketemu bosku di matari dulu. cd yang menurutku sangat inspiring. kukontak para jendral kostrad. dari agung dodot, wawan bembi, sampai novan anak jalanan... yang bisa cuma novan. sampai joga jam 9 malam. novan dah nunggu di janti. kami tancap motor ke blandongan, ternyata tutup. lalu ke lek man angkringan, rame... oke cd-matari yang menajdi tamu kita itu ntar akan kami ajak minum kopi areng... meluncurlah kami ke prawirotaman. bincang2 lama saya habis satu teko java tea (heleh teh anget!) di ministry of coffe hotel. lalu berlima: saya, novan, mas gun (AD matari), mas oni (CD Matari), dan mbak nia (istri mas oni) meluncur ke angkringan lek man... sampai sana langsung pesan 2 kopi joss 3 teh anget. poto2. novan berguru dengan intens pada mas oni. aku sempat ncari sego kucing yang bun gkusan di sekitar sarkem sama mbak nia... dan hasilnya semuanya dah habis...
lalu kami pesan indomie goreng telur yang enak banget. beda gitu! terus pulang. aku ke selatan novan balik ke utara. sedang mas oni, mas gun sama mbak nia istirahat di hotel...

begitulah malam ini...
capuek...

Rabu, 06 Agustus 2008

capee...

hari ini adalah sebulan tepat aku magang dimatari. cape, seneng, dan tentu stress di jalanan jakarta.
ah... maaf aja ga pernah posting2 lagi...
susah cari waktu yang tepat...
dah dulu ye....

Sabtu, 07 Juni 2008

pindahan ni...

alhamdulillah...
akhirnya kami sekeluarga pindah ke rumah sendiri pada tanggal 31 Mei 2008. sesuai dengan impian saya yang tertera di catatn cita-citaku. punya rumah sebelum usia 25... semua berkat Alloh semata... Allohu Akbar. maha besar Alloh atas segala karunianya...
"Rumah kita sendiri...."

Senin, 05 Mei 2008

jangan putus asa!

memang hidup itu adalah tempat dari masalah. tetapi hidup juga bisa dibuat menjadi tempat yang tenang meraih kebahagiaan. teman, janganlah terlarut dalam sedih. sedih... pasti akan terlewati. dimana kesukaran pasti ada kemudahan. begitu Alloh mengulangnya dua kali. jangan kuatir, semua akan mampu kita lewati. jangan lagi sedih menjadi ujung kematian kita. kita boleh mati, tapi sambut kematian kita nanti dengan bahagia. menyisakan senyuman di bibir. tanda, bahagia menyambut kekasih sejati yang tengah menjemput.
teman, jangan lelah! jangan menyerah! terus melangkah! hidup ini bukan tempatnya untuk bersedih!

Minggu, 27 April 2008

lagi2 stop merokok

stop merokok ayuh!!!!!!!!!!!!!!!

iklan-iklanku

stop merokok sekarang juga, yuk!